Banner
Divisi Data Litbang DikbudKementerian Pendidikan
Login Member
Username:
Password :
Jajak Pendapat
perlukan mata pelajaran Informatika di berikan di SMP?
Tidak Perlu
Perlu
  Lihat
Bermanfaatkah Website sekolah bagi anda
Ragu-ragu
Tidak
Ya
  Lihat
Statistik

Total Hits : 29240
Pengunjung : 11257
Hari ini : 5
Hits hari ini : 23
Member Online : 0
IP : 34.204.189.171
Proxy : -
Browser : Opera Mini
:: Kontak Admin ::

nugroho_ahmad2000@yahoo.com    smpn_9_yk@yahoo.co.id

Kajian Ahad Pagi

Tanggal : 03/08/2019, 11:40:54, dibaca 206 kali.

“Anak Itu Amanah”
Prof. Suwarsih Madya, Ph.D


Setiap anak yang dilahirkan ke dunia, telah dibekali dengan bakat dan potensi masing-masing dan dia akan berkembang sesuai apa yang dibawanya itu, sebagai pemberian Allah Swt. Oleh karena itu, janganlah orang lain memaksakan kehendaknya kepada seseorang, termasuk orangtua kepada anaknya.

“Kita boleh berharap agar seseorang yang ada di sekitar kita supaya sukses seperti yang telah kita raih, tapi hal ini tidak boleh menjadi satu keharusan dalam arti menjadi suatu pemaksaan bahwa dia harus memenuhi target yang kita berikan. Itu tidak adil, karena manusia berbekal bakat dan potensi yang berbeda-beda”.

Demikian Prof. Suwarsih Madya, Ph.D. Guru Besar Fakultas Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta dalam Forum Kajian Ahad Pagi SMP Negeri 9 Yogyakarta, yaitu forum pertemuan rutin orangtua/wali dengan sekolah untuk semester genap tahun pelajaran 2018/2019 yang  diadakan pada Ahad, 24 Februari 2019. Namun begitu, kata Suwarsih Madya, orangtua memang wajib mendampingi, membimbing dan mendidiknya dengan baik agar bakat dan potensi yang dibawa anak dapat berkembang dengan baik yaitu menjadi manusia yang berakhlak mulia dan berpengetahuan.

Menurut Suwarsih Madya, pendidikan zaman sekarang memang lebih maju dibanding zamannya dulu atau zaman para orangtua sekarang ini, seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tapi ingat, kata Suwarsih Madya, tantangannya juga lebih besar. Kalau dulu kita mengenal Tri Pusat Pendidikan yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat sebagaimana diperkenalkan oleh bapak pendidikan nasional kita Ki Hajar Dewantara, kini menurutnya sudah menjadi Panca Pusat Pendidikan.

Ini terjadi seiring dengan kemajuan teknologi informasi (era digital). Selaian yang tiga itu, kini bertambah media massa cetak dan elektronik dan dunia maya semua daring. “Namun pada dua aspek tersebut, jika kita para orangtua tidak hati-hati dalam mendampingi, membimbing dan mengawasi anak, justru dapat menjadi tantangan yang mengganggu proses pendidikan”, tegas Suwarsih Madya yang meraih gelar Master dan Ph.D. pendidikan Bahasa Asing (Inggris) di Macquarie University Australia.

“Kanapa orangtua?”, tanya Suwarsih Madya. “Karena orangtua adalah pendidik utama bagi anak, sedangkan sekolah dan yang lainnya hanya membantu dan bersifat sebagai pendukung karena keterbatasan orangtua”. Hal ini harus dipahami dengan baik dan menjadi pegangan penting bagi setiap orangtua, agar tidak menyerahkan urusan pendidikan anak sepenuhnya pada sekolah. Jangan sampai terjadi, setelah memasukkan anak pada suatu sekolah, maka masalah pendidikan anak seolah-olah selesai dan perkembangan baik atau buruk anak menjadi tanggungjawab sekolah. “ini pendapat atau kesimpulan yang salah”, jelas Suwarsih Madya.

Mantan Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Propinsi DIY ini menilai, sudah sejak lama ada kecenderungan sebagian orangtua yang menganggap bahwa setelah anaknya dimasukkan pada sekolah tertentu, maka masalah pendidikan anak sepenuhnya menjadi urusan sekolah. Padahal, kata Suwarsih Madya, anak lebih lama berada di lingkungan keluarga dibanding sekolah, kecuali yang sistem asrama, tapi jumlahnya hanya sekian persen saja.

Oleh karena itu, untuk model sekolah seperti SMP Negeri 9 ini, orangtua harus mengambil peran penuh untuk ikut mendidik anak dalam keluarga, sekalipun tidak berkedudukan sebagai guru dan siswa. Menurut Suwarsih Madya, pendidikan dan cara mendidik itu sangat komplek dan memiliki cakupan yang sangat luas, seperti anak harus memiliki Impian/cita-cita, strategi belajar, pengalaman belajar, motivasi belajar, kapasitas belajar, bakat dan minat, kepribadian, kecerdasan emosional, kecerdasan intelektual.

Ini juga tergambar dalam pasal 1, butir 1 UU nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional sebagaimana dikutip Suwarsih Madya, bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Apalagi untuk aspek mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia sebagaimana diamanatkan Undang-Undang. “Saya tahu, bahwa SMP Negeri 9 Yogyakarta telah ikut berperan sangat baik sebagai Sekolah Model Pendidikan Agama Kota Yogyakarta pada aspek tersebut, dengan puluhan program pembiasaan bidang agama, karakter dan akhlak mulia, tapi ingat ini sekolah negeri yang memiliki keterbatasan dan berbeda dengan sekolah IT apalagi pesantren”, jelas mantan Kepala Biro Kerjasama Luar Negeri dan Hubungan Masyarakat, Depdiknas Jakarta.

Narasumber yang memiliki segudang pengalaman ini, selain apa yang telah dijelaskan di atas, juga pernah menjadi Atase Pendidikan dan Kebudayaan Kedutaan Besar RI di Bangkok, Thailand, Sekretaris Pengurus Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO, Anggota the Governing Board of the UNESCO Institute for Education, yang berkantor di Hamburg, Jerman dan karena tugas jabatannya telah mengunjungi sejumlah negara seperti Australia, Thailand, Inggris, Amerika, Jerman, Malaysia, Kamboja, Sri Langka, Mesir, Prancis, Singapura, Slandia Baru dan RRC, menjelaskan bahwa strategi memberikan dukungan dalam pembelajaran kepada anak antara lain denegan :

(1)               Menciptakan suasana yang kondusif untuk belajar dalam keluarga (2) membantu anak untuk menjaga keseimbangan dari rasa cemas-harapan mencapai keberhasilan  (3) meyakinkan anak bahwa Tuhan YME, Allah swt, Maha Adil, Maha Pemurah, Maha Penyayang, Maha Mendengar (doa) dengan didasarkan bahwa  manusia wajib berusaha dan  tawakal dalam menerima apapun hasilnya (4) optimalkan asupan makanan B3 (bergizi-berimbang-bervariasi) (5) jangan bebani anak dengan target, biarkan anak tentukan target sendiri sesuai dengan tingkat kemampuan.

Lalu bagaimana kerja sama Sekolah dengan Keluarga? Suwarsih Madya menjelaskan : (1) sekolah secara rutin menginformasikan hal-hal yang perlu didukung bersama-sama (2) orangtua proaktif berkomuniukasi dan bertanya kepada guru tentang hal-hal yang menyangkut pendidikan anaknya (3) semua aturan di sekolah dikomunikasikan kepada orangtua bersama penalarannya. (4) orangtua sering meminta anaknya untuk menceriterakan pengalamannya di sekolah (5) orangtua menemani anak yg mengerjakan PR (6) sekolah dan orangtua kompak dalam memberikan apresiasi atas upaya  anak untuk membangun karakter mulia

Hal lain yang sangat penting, jelas Suwarsih Madya, adalah kewajiban kita untuk mengenal anak-anak kita yang berbeda satu sama lain karena memang pembawaannya berbeda. Dengan memahami mereka secara utuh, kita akan dapat menentukan strategi untuk membantu dan memfasilitasi pertumbuhan dan perkembangan mereka. Ingat, anak kita anak kita memiliki multi-kecerdasan seperti  kecerdasan bahasa, kecerdasan logis-matematis, kecerdasan ruang, kecerdasan musik, kecerdasan naturalis, kecerdasan kinestetik-ragawi, kecerdasan intrapribadi, kecerdasan antarpribadi

Dalam membangun kecerdasan emosional, lanjut Suwarsih Madya, anak harus bersama-sama kita bangun kesadaran diri (tahu dirinya), pengendalian diri, kegigihan (pantang menyerah), semangat (motivasi diri), empati, keterampilan sosial. Demikian pula dalam aspek membangun pengetahuan diri, anak harus kita Bantu untuk menemukan aspek kesadaran diri, penerimaan diri, pembuatan keputusan pribadi,  pengendalian gejolak hati, komunikasi, wacana diri, tanggungjawab pribadi, dinamika kelompok dan resolusi konflik

Sedangkan dalam kaitan dengan kapasitas belajar, Suwarsih Madya menggambarkan bahwa anak kita harus percaya diri, membangkitkan rasa   keingintahuan, memiliki tujuan, kendali diri, menyadari kekurangan dan kelebihan. Sementara pada aspek atau faktor kepribadian, guru dan orangtua harus mendorong anak untuk memiliki harga diri, kesediaan untuk berkomunikasi, siap mengambil resiko, terhindar dari rasa cemas, sarat empati, mampu bekerja sama dan memahami introvert-ekstrovert.

Untuk era sekarang, semua ini sangat penting, apalagi Kurikulum 2013 menekankan pada : (1) pemikiran kritis (2) kemampuan/keterampilan menjamin bahwa data yg dikumpulkan terpercaya, cek dan cek kembali (3) kemampuan/keterampilan melaporkan informasi yg telah dikumpulkan secara lengkap dan runtut,  tidak mudah percaya pada informasi dan mengecek kembali dengan berbagai cara.

Oleh karenanya, kata Suwarsih Madya, dalam era digital, idealnya semua urusan persekolahan dikelola dengan basis TIK dan orangtua diberi akun untuk memantau kehadiran dan kemajuan anaknya. Jika belum atau sekolah belum mampu menyelenggarakan  manajemen-e, sebaiknya komunikasi lewat website (ruang dialog lintas warga). medsos, dan/atau email (lebih pribadi) dapat diaktifkan.

Mengapa (terutama orangtua) harus memberikan perhatian yang optimal terhadap pendidikan anak?. ”Karena anak sepenuhnya tanggungjawab orangtua dan ketahuilah bahwa anak itu amanah yang diminta pertanggungjawabannya kelak dikemudian hari”, tegas Suwarsih Madya.

Bagaimana orangtua mengelola amanah berupa anak dari Allah swt? Dengan mendidik dan ikut menanamkan nilai-nilai kehidupan yang mulia dan mengajarkan berbagai macam pengetahuan yg diperlukan karena ia harus menjalankan fungsi kekhalifahan dan melaksanakan 2 tugas utama manusia yaitu beribadah kepada Allah swt, dan memakmurkan bumi (mewujudkan Islam sebagai rahmatan lil alamin). Sekali lagi, karena tidak mungkin melakukannya sendiri, maka orangtua “bekerjasama” dengan lembaga pendidikan formal (sekolah).

Siapapun orangtua, tegas Suwarsih Madya, wajib mendukung terselenggaranya pendidikan akhlakul karimah dan kemampuan berfikir konseptual, kontekstual, dan solutif, mampu memahami dan mengamalkan semua ajaran agama (IMTAQ) dan  IPTEK guna meraih kebahagiaan dunia dan akhirat.

Dalam hal ini, guru wajib pula  memfasilitasi pengembangan potensi siswa untuk mencapai SKL. Jika SKM belum tercapai, anak berhak diberi pengajaran remedial. Jika  pengajaran remedial  memang tidak cukup, biarkan anak mengulang sampai SKM tercapai agar mereka memiliki bekal yang memadai untuk meneruskan belajarnya atau terjun ke masyarakat dan ini bekerjasama dengan orangtua. Di sisi lain, anak yang CI-BI perlu diberi tugas-tugas yang menantang agar dapat  mengembangkan potensinya melampaui SKM untuk mencapai keunggulan sejati. “Hidup memang harus memilih, dan saya punya semboyan hidup adalah perjuangan menegakkan ibadah terhadap Allah swt, Tuhan YME,” tegas Suwarsih Madya mengakhiri prasarannya.

Dalam kesempatan ini, Kepala SMP Negeri 9 Yogyakarta Drs. Sugiharjo, M.Pd. juga menjelaskan bahwa hubungan yang sinergis antara sekolah dengan orangtua dalam proses pendidikan sangat penting dan ini merupakan target dari penyelenggaraan Kajian Ahad Pagi yaitu forum pertemuan orangtua dengan sekolah. “Saya memang baru di sekolah ini, tapi saya cukup memahami tentang arti pentingnya pertemuan seperti yang jarang ada di sekolah lain”, tegas Sugiharjo.

Oleh karenanya, Sugiharjo yang baru menjabat sekitar dua bulan di SMP Negeri 9 Yogyakarta mengharapkan agar pertemuan yang demikian ini dapat terus berlanjut dan mendapat perhatian yang serius dari orangtua/wali siswa, karena banyak ilmu di dalamnya. “Kami bertekad untuk selalu memilih narasumber  yang kompeten untuk forum ini dan untuk menghadirkan Ibu Prof. Suwarsih Madya, Ph.D. kami harus mencari waktu kosong beliau sejak  2 bulan lalu”, jelas Sugiharjo.

Dalam merespon apa yang dilontarkan Prof. Suwarsih Madya, Sugiharjo yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala SMP Negeri 7 Yogyakarta, berencana untuk menambah sejumlah program baru, baik akademik maupun non akademik. Untuk akademik, di samping program yang telah ada, telah diperkuat dengan program sarapan soal dan soal kejujuran.

Sedangkan non akademiki, lanjut Sugiharjo, memperkuat program ekstrakurikuler dan program-program akhlak mulia yang telah ada, kini telah terselenggara program baru yaitu Jum’at Berkah. “Saya menargetkan pada tahun ini SMP Negeri 9 Yogyakarta dapat menyelenggarakan program “Manasik Haji” dean mohon kerjasama Bapak/Ibu orangtua/wali siswa”, tegas Sugiharjo.

Forum kajian yang dipandu oleh moderator Drs. Muslih selaku pelaksana program, diakhiri setelah acara tanya jawab dengan narasumber dan Kepala Sekolah selesai dan sejumlah orangtua melanjutkan konsultasi personal dengan Wali Kelas dan Bapak/Ibu guru yang hadir pada saat itu.***(Muslih)

 





Kembali ke Atas


Berita Lainnya :
 Silahkan Isi Komentar dari tulisan berita diatas
Nama
E-mail
Komentar

Kode Verifikasi
                

Komentar :


   Kembali ke Atas